Publikasi

Kontribusi untuk Bumi dari Film Dokumenter
28 Apr 2022

FIlm dokumenter yang diproduksi Nicky Christian, Marcella Valencia, Aurelia Angelica, dan Shania Carmelita sukses menjadi Best Short Film kategori Documentary dalam ajang perlombaan film internasional One Earth Awards 2021 Season 6. Mengangkat topik Lalat Tentara Hitam atau dikenal juga dengan Black Soldier Fly (BSF), empat mahasiswa program Broadcast & Journalism angkatan 2019 ini mendapat inspirasi dari permasalahan lingkungan di Indonesia. “Saat membayangkan lalat, yang terpikir biasanya hewan di sekitar sampah, padahal jenis dan peran lalat beragam,” ujar Nicky.

Film dokumenter berjudul ‘BSF Flies: Today’s Garbage Predators’ tersebut memperkenalkan BSF sebagai jenis lalat yang dapat membantu pengolahan sampah sisa makanan, terutama ketika berada di fase maggot. “Selain itu, lalat ini tidak mendatangkan penyakit,” terang Marcella. Diakuinya, pembelajaran di dalam kelas, khususnya dari mata kuliah Produksi Film Dokumenter, membantu timnya menentukan subjek film lebih tajam dan detail. Aurelia melanjutkan, “Bimbingan dari dosen dalam proses produksi film juga membuat hasilnya lebih maksimal dan terarah.”

Mata kuliah ini pula yang mendorong mahasiswa untuk mengikutsertakan karyanya dalam festival film. “Baik (festival) tingkat regional ataupun internasional, yang penting karya tidak berhenti sampai di laptop saja,” ujar Shania, “karena itulah kami mengusahakan yang terbaik selama proses produksi.” Tantangan yang dihadapi oleh tim ini tidak berhenti pada diskusi intens pemilihan topik film, melainkan juga kendala lokasi setiap anggota. “Kami berempat berada di tiga daerah berbeda, yaitu Gresik, Semarang, dan Sumbawa,” jelas Marcella. Demi pengerjaan film dokumenter pun keempatnya sepakat untuk bertemu di Surabaya, sekaligus mengingat lokasi observasi adalah salah satu tempat pengelolaan sampah daur ulang di kota tersebut.

Sayangnya, tim ini harus batal melaksanakan observasi di tempat yang telah ditentukan tepat 1 hari sebelumnya. “Kami menghubungi tempat pengelolaan sampah ini beberapa hari sebelumnya, tapi tidak mendapat kabar. Kemudian, kami mendapat info lebih lanjut bahwa kunjungan orang luar tidak diterima” kata Aurelia. Tim ini mengingat kembali kendala memperoleh izin perekaman sebagai bagian dari proses memproduksi film dokumenter. “Membutuhkan waktu hampir satu bulan untuk mendapat izin rekam dari pusat daur ulang yang menjadi lokasi kami pada akhirnya,” kenang Nicky.

Usai tahap produksi diselesaikan, post-production menjadi tantangan berikutnya. Mengedit video dalam format film dokumenter dan berdurasi lama merupakan pengalaman pertama bagi tim ini. “Harus bisa bawa suasana dari awal film sampai akhir, sekaligus membawakan pesan yang ingin disampaikan,” ujar Shania. Melalui film dokumenter ini, tim berharap masyarakat dapat lebih memahami BSF secara lebih luas, termasuk bentuk fisik, perbedaan dengan lalat lain, siklus hidup, dan peran dalam setiap fase hidupnya untuk lingkungan. Mengingat topik film mengenai makhluk hidup, dokumenter mereka pun tergolong jenis dokumenter sains. Karena itu, tim ini memberanikan diri mengikuti perlombaan film internasional One Earth Awards yang bertemakan Bumi. 

Menyabet Best Short Film kategori Documentary, Nicky mengakui timnya bahkan sudah melupakan keikutsertaan dalam perlombaan tersebut. “Jadi, kami sangat kaget saat tahu (karya) menang, sampai butuh beberapa menit untuk mencerna berita tersebut,” tawanya. Bagi Fikomers yang hendak mengikuti festival film, tim ini turut menyemangati. “Yang penting coba dulu, tidak perlu takut gagal karena itu adalah proses menuju keberhasilan,” pesan Aurelia. 

Selamat untuk kemenangan dalam One Earth Awards. Soli Deo Gloria!

Baca lebih lanjut>
Suarakan Fenomena, Peroleh Kemenangan
21 Mar 2022

Lomba Artizen yang diselenggarakan Januari hingga Maret 2022 lalu memberi kemenangan indah bagi Angela Audrey Sutanto dan Putu Dinda Ayudia dari Program Strategic Communication, serta Aurelia Angelica Ng dari Program Broadcast & Journalism. Mengikuti kategori podcast, ketiganya membawakan topik ‘the dualism of impulsive buying’ yang berkaitan dengan fenomena saat ini. “Sesuai dengan slogan Artizen tahun ini yaitu ‘Sadari impresi, bereaksi dengan identifikasi, tanggapi dengan seleksi’ yang disingkat #IRIS, kami ingin membahas bagaimana kecenderungan impulsive buying masyarakat bisa diarahkan ke dampak yang lebih positif,” tutur Angela.

Impulsive buying memang dikenal sebagai kebiasaan yang negatif, karena ada banyak hasil pembelian yang terbuang sia-sia usai spontanitas pembeli mereda. Belum lagi, uang yang dikeluarkan untuk membeli barang tersebut tidaklah sedikit. Namun, layaknya semua hal di dunia, selalu ada dua sisi mata uang. “Kami membahas bagaimana sebenarnya impulsive buying secara bijak dapat membantu UMKM yang juga menggerakkan perekonomian negara,” ujar Putu. Hal ini berkaitan pula dengan kualitas UMKM yang semakin meningkat dan kreatif dalam menyediakan produk-produk praktis. Sehingga, kemungkinan barang tidak terpakai lebih kecil dan menurunkan dampak negatif impulsive buying. Merangkum keseluruhan konten, podcast pun berjudul ‘I See It, I Want It, I Like It’.

Fokus pembahasan ini didapat melalui diskusi antara tiga mahasiswi angkatan 2019 ini. “Menarik karena membicarakan aktivitas belanja yang sering kita lakukan hingga dampaknya, dan bagaimana sekarang kita bisa mengalihkan hal tersebut agar bermanfaat secara sosial,” terang Aurelia. Mahasiswi yang juga tengah menempuh student exchange di Korea University ini mengaku bahwa anggota tim sudah sepakat hendak membahas topik impulsive buying, namun terkendala kesibukan masing-masing anggota. Sempat ingin mengundurkan diri tepat tujuh hari sebelum pengumpulan karya, akhirnya karya pun selesai tepat waktu yang membuktikan jam terbang mereka di ranah podcast. “Memahami garis besar pembahasan, kami rekaman 1 kali take tanpa naskah,” jelas Angela, “agar tidak bertabrakan karena tidak ada naskah yang mengatur pasti, podcaster ada dua yaitu Putu dan Aurelia, sementara aku menjadi editor.”

Juara 1 pun diraih dan disambut gembira oleh ketiganya. Bagi Aurelia yang mempelajari Broadcast & Journalism, podcast tentunya bukan sesuatu yang asing. Terlebih, ia mengetahui teknik vokal dan penyiaran dari teater, pelatihan public speaking, dan speech competition. Namun, untuk Angela dan Putu yang mendalami Strategic Communication, Petra Campus Radio menjadi tempat praktik sekaligus belajar yang mengasah kemampuan. Radio berbasis internal UK Petra tersebut juga menjadi tempat kedua mahasiswi ini bertemu Aurelia, sehingga menjadi tim yang solid. “Saat tahu info lomba Artizen, langsung mengajak Putu yang ternyata sudah diundang Angela. Jadi pas deh, ikut lomba bertiga,” tawa Aurelia.

Kemenangan yang dinikmati ketiganya bukan tanpa perjuangan. Mereka paham, podcast bersifat tricky karena harus bisa membawakan topik cukup berat dengan cara yang ringan. “Membawakan topik dengan kesan mengobrol atau diskusi dengan teman yang relatable untuk audiens memang tidak mudah,” aku Angela. Karenanya, tidak perlu terlalu banyak memberi hasil penelitian atau semacamnya dengan bahasa yang berat seperti saat menulis esai formal. Saling mengobrol dan berpendapat dengan kritis, ditambah melempar candaan sesekali untuk menjaga suasana. “Kuncinya adalah membawakan topik dengan pendapat yang kritis, tapi tetap dengan suasana santai dan kesan personal,” senyum Putu.

Selamat untuk Angela, Putu, dan Aurelia! Tetap menjadi podcaster andal yang menginspirasi!

Baca lebih lanjut>
Memotret Rupa, Menunjukkan Eksistensi
17 Mar 2022

Satu lagi prestasi gemilang #IkomUKPdiSEPIKHobi fotografi yang ditekuni Arion Reyvonputra berbuah manis. Bukan hanya bersinar secara komersial, kemampuan mahasiswa Program Broadcast & Journalism ‘19 ini juga diakui melalui kemenangannya dalam lomba oleh Surabaya Epik (SEPIK) 2022. Mengikuti lomba kategori Human Interest & Street Photography, ia menjadi juara favorit dengan karya berjudul ‘Kisah Tentang Tunjungan dan Karya Lukisku’. Arion menjelaskan, “Salah satu ketentuan lomba adalah objek foto harus dalam wilayah Surabaya, cocok dengan foto berlatarkan Jalan Tunjungan yang ikonik di kota ini.”

Uniknya, karya yang disertakan Arion bukanlah foto yang sengaja dipotret untuk lomba. “Sebenarnya itu hasil hunting foto yang biasa aku lakukan, jadi bisa dibilang stock photo,” ucapnya. Meski awalnya memotret tanpa target kompetisi tertentu, hal ini seakan membuktikan kepekaan Arion sebagai fotografer dalam menangkap objek foto dan membuatnya ‘bercerita’. Lantas, apa yang mengilhaminya hingga tertarik untuk mengabadikan momen tersebut? 

“Awalnya ingin menunjukkan tampilan Jalan Tunjungan. Ternyata dekat putar balik di Jalan Tunjungan, ada satu pelukis pria paruh baya yang sedang memandangi lukisan-lukisannya. Ada lukisan wajah orang, ada juga lukisan lainnya. Eksistensi seorang seniman jalanan di pusat kota Surabaya menjadi kombinasi yang menarik buat diabadikan,” terangnya. Konsep pemikiran ini juga tercermin dalam caption foto yang turut disertakan sebagai syarat mengikuti lomba. Arion mengaku, ia belum terbiasa menulis caption untuk karyanya. “Karena foto bisa ‘bercerita’ dengan caranya sendiri,” ungkapnya. Namun, melalui kesempatan ini, ia menyadari bahwa caption dapat menjadi pelengkap ‘cerita’ yang hendak disampaikan melalui karya. 

Pendidikan yang diterimanya menjadi salah satu dasar Arion mengasah kemampuan fotografi. “Belajar teknis komposisi foto dari mata kuliah,” akunya. Fotografi Jurnalistik menjadi mata kuliah yang diingatnya kala bersinggungan dengan fotografi human interest. Ia kemudian menajamkan pengetahuan tersebut melalui pengalaman dan latihan. Selain fotografi, Arion juga memiliki kecintaan terhadap videografi. Ia berminat mengembangkan keduanya lebih lagi dengan sesama mahasiswa Ilmu Komunikasi UK Petra yang juga memenangkan lomba oleh SEPIK 2022.

Seniman jalanan di Jalan Tunjungan kerap dianggap ‘biasa’ atau bahkan ‘invisible’ oleh orang lain, tetapi kreativitas Arion menggerakkannya untuk mengabadikan momen tersebut. Ini sesuai dengan pendapat seniman dan penulis asal Amerika, Bruce Garrabrandt, “Creativity doesn’t wait for that perfect moment. It fashions its own perfect moments out of ordinary ones.” Sukses selalu untuk Arion!

Baca lebih lanjut>
Warisan Surabaya untuk Generasi Muda
15 Mar 2022

Lomba oleh Surabaya Epik (SEPIK) menjadi wadah uji kreativitas Vanessa Wurya, Nicholas Abdiel, dan Marcel Joenetan. Bertemakan mangun karsa malih karsa yang berfokus pada kebudayaan Surabaya, ketiganya menjadi peserta dalam kategori lomba short cinematic video. Gelar Juara Umum untuk kategori tersebut pun disabet dengan membanggakan oleh tim bernamakan Kalandra ini. Namun, bagaimana proses kreatif yang dirancang oleh tim sehingga mampu memberi warna berbeda?

”Sejak awal, kami tertarik dengan Kampung Pecinan di Surabaya,” ujar Vanessa, “ada banyak nilai budaya dan sejarah setempat yang bermakna untuk dibahas.” Mahasiswa Program Strategic Communication angkatan 2019 ini juga menjelaskan bahwa kawasan tersebut telah diresmikan pada 2020 sebagai destinasi wisata heritage, yakni Kampung Wisata Pecinan (KWP) Kapasan Dalam. “Ini juga yang membuat kami lebih yakin, karena SEPIK sendiri merupakan rangkaian kegiatan oleh mahasiswa Surabaya dan berfokus pada kota ini,” tuturnya lagi. Judul karya yang dipilih pun menggambarkan pemikiran tersebut, ‘Menilik Warisan Surabaya Citraloka Pecinan’.

Jika ditarik ke belakang, KWP Kapasan Dalam memiliki peran besar untuk pejuang di Kota Pahlawan. Terdapat bunker di bawah bangunan kayu tua yang dulunya difungsikan sebagai balai pengobatan untuk arek-arek Suroboyo yang terluka. “Bisa dibilang, bunker itu adalah Ruang Gawat Darurat (RGD) pada zaman dahulu,” ucap Nicholas, mahasiswa program Broadcast & Journalism ‘19. Kawasan wisata ini juga menjadi lokasi eksisnya Kelenteng Boen Bio yang hanya ada 3 di dunia. ‘Boen’ berarti terpelajar atau kesusastraan, sementara ‘bio’ memiliki arti kuil, sehingga ‘boen bio’ dapat diartikan sebagai ‘kuil kebudayaan’. Tidak heran, kelenteng ini ditujukan untuk umat Konghucu mempelajari ajaran agama dan mendalami kebudayaan Tiongkok seperti seni Barongsai. 

KWP Kapasan Dalam tentunya menjadi kawasan historis dan legendaris, namun mempertahankan nilai budaya yang ada juga sama menantangnya. Menggunakan sudut pandang inilah tim Kalandra merancang karyanya. “Tentang bagaimana mereka membangun dan mempertahankan nilai yang dimiliki Pecinan,” ungkap Marcel, “yang menurut pengamatan kami, salah satu faktornya adalah para warga yang memiliki semangat dan kebanggaan yang mengharukan terkait peran mereka sejak era kemerdekaan.” Mahasiswa Program Broadcast & Journalism angkatan 2019 ini juga menjelaskan, timnya membahas perjuangan para pelaku bisnis yang mayoritas merupakan penduduk setempat. “Peresmian KWP Kapasan Dalam dilaksanakan saat pandemi pada 2020 sehingga cukup terbatas. Melalui karya ini kami berharap, kawasan wisata ini serta warga setempat mendapatkan perhatian lebih banyak dari audiens yang semakin luas,” ujarnya.

Kampung Pecinan tersebut memang patut mendapat apresiasi dan exposure yang masif. Selain objek wisata bernilai historis, terdapat pula wisata kuliner khas Tiongkok yang diadopsi dari luar dan dalam negeri. “Salah satu yang tidak boleh dilewatkan adalah bakmi Kungfu, Chinese food khas Singkawang,” terang Vanessa. Warga setempat pun menyambut wisatawan dengan ramah, baik untuk menikmati kawasan wisata atau sekadar berbincang santai. Nicholas menambahkan, “Kami diajak berkeliling buat lihat-lihat tempat wisata, cerita juga mengalir saja. (Warga di KWP Kapasan Dalam) sangat welcome.”

Tantangan justru ada pada waktu merancang dan mewujudkan konsep video. Dikarenakan tim Kalandra baru mengetahui informasi lomba dua minggu sebelum pengumpulan karya, kinerja pun harus serba efektif. “Membuat konsep, riset, take video, sampai menyunting dilakukan dari pertengahan Februari sampai awal Maret. Tapi puji Tuhan, semuanya dimampukan dan tepat waktu,” kenang Marcel. Relasi pertemanan yang terjalin antara tiga mahasiswa ini juga membantu sinergi tim, sehingga tidak mengagetkan saat tim ini menyatakan target mereka berikutnya adalah membuat karya serupa dalam kompetisi lain. “Rencananya akan dibuat bersama Arion,” jelas Marcel, menyebutkan nama kawannya dari Program Broadcast & Journalism yang juga memenangkan lomba oleh SEPIK.*

Selamat untuk Vanessa, Nicholas, dan Marcel! Semoga dapat semakin menginspirasi melalui karya-karya berikutnya!

Sst..ada satu lagi yang menarik dari #IkomUKPdiSEPIK

Baca lebih lanjut>
Bukan Berita Biasa: Lab TV Makin Mempesona!
08 Mar 2022

Dinamisnya perkembangan industri kreatif menjadi salah satu daya tarik mendalami ilmu komunikasi. Tren, keahlian, hingga teknologi mampu memengaruhi cara masyarakat dan media berkomunikasi. Program Studi Ilmu Komunikasi UK Petra memahami kebutuhan tersebut berikut realita yang ada, khususnya dalam konteks broadcasting. Fasilitas yang disediakan pun senantiasa ditingkatkan, salah satunya Laboratorium (Lab) TV yang kini berlokasi di Gedung Q lantai 5 dan 6.

Selain ukuran yang berkali lipat luasnya, apa yang berbeda dari Lab TV terkini dengan yang terdahulu bertempat di Gedung C lantai 2? “Kami melakukan updating teknis yang cukup signifikan, contohnya penggunaan lighting yang berbeda di studio dan tools baru lainnya,” jelas Daniel Budiana, S.Sos., M.A., Kepala Lab TV dan Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi. Hadirnya fasilitas baru ini kian mendukung produksi konten yang telah dirancang pada tahap pre-produksi. Masih dalam ruang studio, tersedia pula green screen yang dapat digunakan oleh lebih dari 4 orang secara bersamaan. 

Selain itu, ada juga fasilitas yang mendukung live streaming dari Lab TV, sehingga tentunya updating teknis yang diungkapkan Daniel dilakukan sembari memperhatikan perkembangan media komunikasi. “Output komunikasi saat ini sudah beragam, tetapi kalau mau ditarik kembali tetap prinsipnya adalah broadcasting,” tambahnya. Master control pun tidak dilewatkan sebagai bagian dari produksi konten. Langkah berikutnya yang umumnya terlintas dalam pikiran adalah proses menyunting atau editing. Di sinilah kejutan berikutnya menanti.

“Yang terbaru, ada ruang post-production dengan fasilitas yang memungkinkan untuk voiceover, color grading, dan color correction. Ini berbeda dengan ruang editing. Jadi bisa membantu teman-teman untuk mempelajari editing tingkat advance,” ujar Daniel. Hal ini tidak lepas dari pengamatan program studi terkait terhadap tuntutan industri kreatif Indonesia yang padat karya. Praktisi diharapkan dapat merangkap beberapa keahlian sekaligus, contohnya reporter melaporkan berita dengan naskah yang dirancang dan disunting sendiri, lalu diunggah secara mandiri pula. “Mahasiswa kami bekali dengan berbagai macam keterampilan agar siap saat terjun ke lapangan kelak,” tambah Daniel. 

Namun, Lab TV juga memahami bahwa broadcasting tidak selalu terkait teknis. Ruang make-up disediakan untuk para talent dapat berganti maju dan merias diri, termasuk bagi make-up artist (MUA) yang kerap menjadi bagian dari dunia broadcast. Ruangan ini turut menjadi peningkatan yang dilakukan Lab TV jika dibandingkan dengan versi terdahulu. 

Dalam prosesnya, Lab TV berkaca pada stasiun TV lokal dan luar negeri untuk mencermati kebutuhan serta perkembangannya. Selain itu, Production House (PH) juga menjadi referensi khususnya untuk ruang post-production. Namun demikian, Daniel menegaskan, “Peralatan ini ditujukan agar teman-teman bisa mengasah kemampuan diri. Jika kemampuan sering dilatih, maka kita tidak akan terpaku pada alat saja.” 

Diakui Daniel, mata kuliah Program Broadcast & Journalism yang melibatkan produksi konten dan media akan membutuhkan fasilitas seperti yang disediakan Lab TV. Tetapi, lab ini tidak terbatas hanya untuk mahasiswa tertentu. “Lab ini terbuka untuk civitas UK Petra sebagai fasilitas kampus, hanya saja kebetulan kami yang mengelola,” ucapnya.

Wah, pasti sudah tidak sabar ya untuk ikut memanfaatkan fasilitas keren Lab TV. Makanya, ikuti terus informasi terkait Lab TV melalui Instagram @ikom_ukp!

Baca lebih lanjut>
Double Degree Program to Dongseo University: Life-Changing and Eye Opening!
02 Mar 2022

Double degree program menjadi hadiah Program Studi Ilmu Komunikasi UK Petra untuk mahasiswanya pada 2021, terkhusus bagi mahasiswa Broadcast & Journalism. Selain memperluas pengalaman dan relasi, mahasiswa akan mendapatkan dua gelar yakni Sarjana Ilmu Komunikasi (S.Ikom.) dan Bachelor of Fine Arts (B.FA.). Program yang telah lama dinanti mahasiswa ini dijalankan bersama Dongseo University (DSU), Busan yang dikenal unggul dalam bidang film dan teknologi informasi. Jessica Kristian Mantiri, mahasiswi Program Broadcast & Journalism angkatan 2018, menjadi peserta pertama yang mengikuti program ini pada Maret 2021 hingga Februari 2022.

“Sampai di Korea sebenarnya bulan Februari 2021 untuk persiapan dan adaptasi, lalu sekolah dimulai pada awal Maret 2021 yang juga menandakan spring semester,” terang Jeka, panggilan akrabnya. Sejak pertama kali mengetahui informasi program, ia sangat antusias dan langsung menyiapkan semua berkas yang dibutuhkan. Pembelajaran dan praktik nyata bersama pegiat seni di Negeri Ginseng membayang di pelupuk mata. Samakah ekspektasi tersebut dengan realita yang ditemuinya dalam double degree program?

Jeka menyebutkan, ia bergabung dengan Jurusan Film & Visual Effect (VFX) DSU dalam spring semester yang juga disebut semester ganjil. “Semester ini tergolong advance, lalu banyak belajar tentang teknis pre-production, termasuk software yang aku belum banyak pakai,” ujarnya. Proyek produksi film yang dijadikan ujian akhir pun sudah diinformasikan sejak awal, sehingga semester ini juga digunakan Jeka bersama timnya untuk melaksanakan pre-production. Mulai dari menulis naskah, membuat storyboard, menyusun budgeting, hingga memikirkan visual effect dengan menggunakan green screen juga dipikirkan. Untuk menambah pengalaman dan pemahamannya terkait produksi film, ia pun bergabung dalam beberapa study group pada summer break di bulan Juli hingga Agustus 2021. Produksi film kelompok Jeka dilaksanakan selama fall semester atau semester genap pada September hingga Desember 2021.

Diakuinya, terlibat langsung dalam proses pembuatan film membuat pengalaman double degree semakin bermakna. Bekerja sama dengan mahasiswa lintas negara turut membuat Jeka belajar lebih dari dunia film, yakni terkait toleransi dan saling menghargai. “Karena pembuatan film dilakukan secara berkelompok dan anggota kelompok terbatas, jadi ada beberapa kelompok yang meminta bantuan anggota kelompok lain untuk sekadar meramaikan adegan, supaya set tidak terlihat ‘kosong’,” kenangnya. Setelah filming, anggota yang membantu ini normalnya diberikan konsumsi atau diajak makan bersama kelompok yang dibantunya sebagai ucapan terima kasih. Jeka menambahkan, hal ini merupakan budaya yang tidak asing bagi pegiat film di Korea. Tim yang tergabung akan makan malam bersama untuk merayakan selesainya seluruh filming. Selama proses ini, tak jarang mahasiswa berinteraksi sambil makan bersama dosen yang membimbing. 

Pengalaman paling berkesan bagi Jeka tiba saat ia melakukan winter internship bulan Desember 2021 hingga Februari 2022. Ia menjadi kru produksi film yang dilaksanakan oleh tim profesional, mulai dari sutradara hingga aktor yang membintangi. Bahkan, Jeka berkesempatan melihat langsung akting Kim Min Sang, aktor kawakan Korea. Pengalaman yang hanya didapatkan melalui double degree program ini membuatnya lebih mengapresiasi praktisi pegiat film dan film itu sendiri. “Sebagai penonton, mudah sekali untuk kita melihat film dan melontarkan kritikan,” Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “Bukan berarti kritikan itu tidak boleh, tetapi dengan aku sudah merasakan langsung proses pembuatannya, aku bisa lebih menghargai film sebagai suatu produk final bahkan jika (film itu) tidak sesuai ekspektasi.”

Hal ini pula yang menjadi kekuatannya saat memproduksi film untuk proyek ujian akhir bersama timnya. ‘Until Graduation Comes’ menjadi buah karya dengan Jeka sebagai Director of Photography (DOP) yang juga berkontribusi untuk pengaturan lighting. Film pendek berdurasi 27 menit ini mengisahkan kekhawatiran tiga mahasiswa akan masa depan, yang justru berdampak pada kehidupan masa kini. Film bergenre thriller ini berhasil menyabet penghargaan Best Editing kala dilombakan dalam Digital Art Show dengan film-film karya mahasiswa DSU lainnya. Lebih lanjut, Jeka menjadi perwakilan international students di Korea untuk sharing kesan dan pesan selama mengikuti double degree program pada pembukaan Digital Art Show. ‘Until Graduation Comes’ kini dapat ditonton melalui saluran YouTube 3AM Production dengan judul yang sama.

Mengingat kembali momen-momen produksi film tersebut, Jeka tertawa kecil sembari satu telapak tangannya menutupi wajahnya. Ia seolah menyimpan memori tersebut sebagai kenangan yang manis, namun juga bersyukur bahwa masa itu telah berakhir. “Kami filming selama lima hari, yang paling lama dari jam 10 pagi sampai 5 pagi keesokan harinya,” ujarnya. Ditambah lagi, produksi filmnya berlangsung pada musim gugur hingga awal musim dingin. Proses produksi film yang menuntut dan memakan waktu merupakan pengalaman baru bagi mahasiswi yang menggemari grup musik NCT ini. “Kesehatan jadi terpengaruh, sempat merasa pusing dan nyeri,” akunya. Obat pereda nyeri dan sakit kepala pun menjadi pertolongan pertama bagi Jeka. Syukurnya, ia dapat menyelesaikan film dengan sehat. “Meskipun sangat melelahkan, aku mau tetap bersyukur. 매도 먼저 맞는 게 낫다,” ujarnya, menggunakan ungkapan Korea yang memiliki kesamaan makna dengan ‘berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian’.

Berada di negara dengan industri perfilman yang berkibar, Jeka tidak melewatkan kesempatan untuk menghadiri Busan International Film Festival (BIFF) dan Busan Short International Film Festival (BSIFF) yang kerap menjadi sorotan dunia. “Sayangnya, nggak sempat hadir saat opening BIFF karena sedang sibuk di kuliah, padahal host-nya Song Joong Ki,” sesalnya sambil tertawa. Meski demikian, mahasiswi ini gembira dapat menonton masing-masing 1 film pilihan secara cuma-cuma dengan tiket yang dibagikan untuk mahasiswa perfilman. Penggemar buku tulisan Dee Lestari ini juga menjadi saksi tingginya minat masyarakat internasional terhadap karya anak bangsa, terbukti dengan tiket film Penyalin Cahaya (judul internasional: Photocopier) yang habis dalam waktu singkat. Segala pengalaman yang didapatnya secara langsung dalam double degree program ini membuat semangatnya sebagai pelajar di bidang broadcasting kian bergelora.

Pada akhir program, farewell mahasiswa asal Indonesia dilakukan secara akrab bersama Cho Seung Hoon selaku dosen wali. Jeka bersama mahasiswa lainnya diajak kilas balik perjalanan mereka sebagai international students melalui dokumentasi kegiatan formal dan informal. Tawa dan candaan yang hadir pada awal kegiatan perlahan menjadi tatapan haru dan seruan bangga, seiring mahasiswa menyadari bahwa setiap pembelajaran tidaklah mudah dan tidak selalu menyenangkan, tetapi kian mendewasakan dan berharga untuk dijalani hingga kelak meniti karir. Acara dilanjut dengan pemberian toga dan piagam non-resmi sebagai penghargaan bagi mahasiswa. Nantinya, piagam dan gelar resmi (Bachelor of Arts) akan diberikan saat mahasiswa menyelesaikan program pendidikan sarjana di universitas asal.

Bagi Jeka, keputusannya mengikuti double degree program tidak lepas dari dukungan orang tua dan keinginan untuk maju. Meski terselip kekhawatiran tentang tinggal jauh dari keluarga dan tempat yang telah familiar untuknya, Jeka memilih untuk menatap peluang yang ada dengan optimis sekaligus memberikan upaya terbaik. Ia menegaskan, “Nilai memang bukan segalanya, tetapi tetap menjadi tanggung jawabku sebagai mahasiswa.” Ia pun melengkapi kemampuan akademiknya dengan pengalaman di lapangan yang memperkaya pengetahuannya sebagai pelajar. Kegiatan mahasiswa, proyek yang ditawarkan, hingga uluran tangan dari mahasiswa lain yang ingin berkenalan bisa jadi kesempatan yang hadir sekali seumur hidup. “Namun, ingat juga kapasitas kita sebagai manusia, baik fisik maupun mental,” tambahnya. 

Berkaca dari film ‘Until Graduation Comes’, Jeka belajar untuk tidak sering-sering menoleh ke belakang dan mengkhawatirkan masa depan. “Berada di Korea yang memiliki 4 musim membuatku lebih sadar pentingnya live in the moment. Musim berganti dengan cepat, kalau tidak mensyukuri kehidupan saat ini, aku bisa menyesal dan itu akan terus berulang. Selalu ada yang bisa dinikmati dalam setiap musim, begitu juga dengan kehidupan,” terangnya. 

 

Sukses selalu untuk Jeka!**

Baca lebih lanjut>
Greater Education for Indonesia: IDEATHON 2022
01 Mar 2022

Mengutip Paul J. Meyer, “Communication is the key to personal and career success.” Hal ini dibuktikan oleh Ricky Ciputra selaku mahasiswa Program Strategic Communication bersama rekan Graciella Eunike dan Antonieta Widya dari Program Business Management UK Petra. Menyabet gelar runner up dalam Idea Marathon (IDEATHON) with Bank Mandiri 2022, tim bernama Greater Education for Indonesia (GE-I) Class ini merancang ide bisnis dalam sektor edukasi dan teknologi. 30 tim dalam UK Petra mengikuti webinar on business planning, mentoring session, hingga final pitching sejak 7-24 Februari 2022.

Diakui Ricip, sapaan akrab Ricky, rangkaian kompetisi tersebut kian menajamkan pemikirannya dalam strategi komunikasi dan fundamental bisnis. Bersama timnya, ia merancang aplikasi berbasis EduTech yang kelak dapat menjadi one stop solution for education. Adapun ide ini timbul dari dua keresahan utama para anggota tim, yakni budaya mengajar dan pemahaman masyarakat akan pendidikan. “Melalui aplikasi kami, mengajar dan belajar diharapkan tidak lagi dimaknai hanya secara konvensional. Pengajar bisa bekerja secara digital dan belajar bukan selalu berarti duduk di kelas,” terang Ricip. Melalui branding yang akan dilakukan, GE-I Class juga hendak mengubah stigma mengajar yang kerap dianggap kaku. Lebih lanjut, tim ini memiliki mimpi untuk menjadikan profesi guru/pengajar sebagai pekerjaan yang diminati dan layak.

Tidak jauh dari stigma mengajar, pendidikan kerap dinilai membosankan. Penyebarannya pun belum merata dikarenakan berbagai faktor. Menyadari hal ini, Ricip dan timnya berupaya untuk menyediakan edukasi yang dapat diakses kapan pun dan di mana pun. “Edukasi dapat menuntun seseorang berpikir kritis dan rasional, sehingga bisa membantu membedakan mana yang dapat dipercaya, serta mana yang harus ditelaah kembali,” ujarnya. Dunia digital yang meluas diiringi dengan penyebaran informasi yang kerap kali terlalu banyak, sepatutnya dibarengi dengan edukasi yang mampu membimbing seseorang berpikir untuk dirinya sendiri, bukan hanya mengikuti arus. 

Sebagai runner up, GE-I Class mendapatkan modal sebesar 30 juta rupiah untuk mewujudkan rancangan ide bisnisnya. Seberapa jauh persiapan yang sudah dilakukan? “Sekarang kami mendalami riset nyata melalui focus group discussion (FGD) sembari mengikuti pelatihan-pelatihan untuk lebih memahami bisnis. Selain itu, mengembangkan tim IT untuk product development dan persiapan legal, yaitu pendirian badan usaha.” Nantinya, GE-I Class berencana untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak, sehingga adanya persiapan legal dilakukan untuk meraih kepercayaan secara nyata.

Ricip yang dipercaya menjadi Chief Marketing Officer (CMO) bertanggung jawab terkait target market, brand development, dan aktivitas Public Relations (PR) dalam pengerjaan aplikasi ini. Latar belakang pendidikan yang dan pengalaman yang ditekuninya membuat ia lebih memahami SWOT matrix, PEST analysis, dan competitor analysis. Lebih lanjut, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UK Petra periode 2020/2021 ini juga menyadari praktik nyata komunikasi melalui public speaking dan pitch deck yang dirancangnya. 

Menjadi runner up IDEATHON 2022 bukanlah prestasi pertama atau pun terakhir Ricip. Pengalamannya menjadi peserta lomba tidak selalu berakhir manis, tetapi ia selalu memiliki kepercayaan untuk mencoba sekali lagi. “Those who win are the ones who have tried a million times,” ujarnya. Ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi UK Petra (HIMAKOMTRA) 2019/2020 ini juga menyadari pentingnya memiliki target agar dapat memberi upaya maksimal, serta mempunyai rekan tim dengan visi dan misi yang sama, “Rekan tim tidak harus ditemui dalam program studi yang sama, bisa jadi mahasiswa dari program studi berbeda yang saling melengkapi.” Berdasarkan pengalamannya, mahasiswa Ilmu Komunikasi sebenarnya banyak dicari oleh mahasiswa dari program studi lain. 

Ricip menyadari, perjalanan seusai kuliah bukanlah jalan dengan papan petunjuk yang pasti. Karenanya, seseorang perlu mengetahui dirinya dengan baik agar dapat menentukan pilihan yang sesuai. Ada banyak cara untuk mengetahui potensi diri, namun tentunya selalu memiliki tantangan. Bagi Ricip, proses tersebut akan selalu ada untuk membentuk diri menjadi semakin baik karena tidak ada yang kebetulan. “Mengerjakan sebaik mungkin apa yang dipercayakan, serta belajar berserah dan percaya pada campur tangan Tuhan,” tutupnya dengan senyum.**

Baca lebih lanjut>
Menyuarakan Kreativitas Bangsa untuk Perekonomian Indonesia
19 Apr 2021

Penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) akibat pandemi COVID-19 telah membawa dampak besar bagi perekonomian Indonesia, terutama bagi pelaku UKM/UMKM di Indonesia. Banyak pelaku UKM/UMKM, terutama yang belum mencoba berjualan secara daring, terpaksa menutup usaha mereka selama pandemi COVID-19. Hal ini dikarenakan hampir semua orang di Indonesia saat ini sedang work from home (WFH) atau beraktivitas dari rumah, sehingga mereka akan berbelanja secara daring melalui media sosial atau situs perdagangan elektronik (e-commerce). Melihat kondisi kritis ini, tiga orang mahasiswi dari Program Strategic Communication Fikom UK Petra ingin membantu memberikan sebuah solusi. Tiga mahasiswi tersebut adalah Sherlly Christina Dewi (F11180009), Laurensia Sherin Hadi (F11180022), serta Praisy Yustisia (F11180091), dan solusi tersebut mereka angkat dalam lomba Public Relation Competition (PResco) Komunikasi Fiesta 2021 oleh Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.

Tiga mahasiswi ini membuat sebuah program bertajuk “DENTING: Dengungkan Kreativitas Bangsa” yang mengajak mahasiswa untuk membantu menyuarakan kondisi UKM/UMKM di Indonesia. “Kondisi UKM/UMKM di Indonesia cukup pasif dan dengan keberadaan COVID-19, kondisi mereka semakin kritis. Maka dari itu, kami ingin membuat program ini untuk membantu UKM/UMKM tetap bertahan,” ujar Sherlly. Sherlly kemudian mengungkapkan bahwa kegiatan yang ada di dalam program ini sebenarnya terinspirasi dari program Surabaya Epik (SEPIK) yang diadakan oleh BEM Universitas Kristen Petra dan berkolaborasi bersama beberapa universitas lain di Surabaya. “Ada beberapa program terinspirasi saja, namun tidak benar-benar serupa. Kami membuat program sendiri yang berbeda dan disesuaikan dengan sasaran kami,” tutur Sherin. Selain itu, program ini akan mengajak mahasiswa di seluruh Indonesia dan mahasiswa yang menjadi peserta dari program ini akan disebut sebagai Loncengers.

Program ini dipresentasikan kepada juri pada Kamis, 15 April 2021. Sherin mengungkapkan bahwa mereka memperoleh pujian dari juri bahwa program ini menarik dan bermanfaat apabila terwujud. Mereka berhasil masuk ke dalam 5 besar, namun perjuangan mereka belum selesai sampai situ. Pada tanggal 16 April 2020, ketiga mahasiswi ini masih perlu melakukan konferensi pers sebagai rangkaian terakhir dari kegiatan lomba PResco Komunikasi Fiesta 2021. “Setelah lolos 5 besar, mereka mengumumkan topik konferensi pers untuk masing-masing tim. Kebetulan, kami memperoleh topik tentang pemberian Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 10% pada produk digital dan ini topik yang tidak begitu kami kuasai,” ungkap Sherlly. Ketiga mahasiswa ini hanya memiliki waktu kurang dari satu hari untuk mempersiapkan dan salah satu anggota tim, Praisy, juga mengungkapkan bahwa mereka hampir tidak tidur karena mempersiapkan topik konferensi pers ini.

Pada Sabtu 17 April 2021, Komunikasi Fiesta 2021 mengumumkan pemenang lomba PResco dan tim ini ternyata berhasil menyabet Juara III. Mereka mengungkapkan bahwa mereka tidak menyangka kemenangan ini karena pada saat konferensi pers, mereka memperoleh kritik dari para juri. Namun, kerja keras dan kreativitas tim ini tetap berhasil diakui oleh para juri sehingga layak masuk dalam jajaran para pemenang. “Puji Tuhan bisa menang, bersyukur dan lega banget,” pungkas Sherlly. Selamat kepada Sherlly, Sherin, dan Praisy. Semoga pencapaian ini dapat menjadi inspirasi bagi Fikomers untuk bekerja keras meraih prestasi. Soli Deo Gloria!

Baca lebih lanjut>
Raising Awareness on Sexual Jokes Harassment through Radio Broadcasting
26 Apr 2021

Pada Jumat, 23 April 2021 lalu, seorang TikTokers bernama Haga Mars memperoleh kecaman setelah membuat konten video lelucon pemerkosaan (rape jokes) yang berujung pada pelecehan seksual (sexual harassment). Tindakan Haga Mars ini merupakan satu dari sekian banyak lelucon pemerkosaan maupun bentuk lelucon seksual lain yang beredar baik di media sosial maupun di kehidupan nyata. Banyak orang yang melihat lelucon seksual sebagai sesuatu yang tak berbahaya (harmless), padahal lelucon seperti ini dapat menciptakan ekosistem yang mengekspresikan seksisme dan melakukan kekerasan seksual terhadap orang lain menjadi sesuatu yang diterima secara sosial. Melihat kondisi ini, Nadya Febiola (F11180028), Florentina Fahriza Kusuma (F11180045), dan Felicia Clairine Ariela (F11180010) memutuskan untuk membahas isu mengenai kekerasan seksual melalui lelucon seksual. Isu yang mereka bahas ini bertepatan dengan tema “URGENT: Uncover Gender Inequality in Sexual Harassment” dari kategori Radio Broadcasting (RAC) dalam lomba Communication Interest Festival (COMMINFEST) 2021 yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Oleh karena itu, mereka memutuskan untuk membahas isu mengenai kekerasan seksual melalui lelucon seksual dalam lomba ini.

            Awalnya, Nadya mengetahui mengenai COMMINFEST 2021 karena kerjasama yang dilakukan antara Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi UK Petra dan Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta (HMPS Kom). Ia pun memutuskan untuk mengikuti roadshow COMMINFEST 2021 dan merasa tertarik dengan lomba RAC yang diadakan. Pada saat itu, Felicia Clairine, atau lebih akrab disapa Clai, juga mengikuti roadshow dan merasa tertarik. Setelah mengikuti roadshow, kedua mahasiswi ini mengajak satu orang mahasiswi lagi dari program Broadcast and Journalism, yaitu Florentina yang lebih akrab disapa Flo. Dalam proses mempersiapkan skrip untuk lomba, ketiga mahasiswi ini hampir membatalkan niat mereka untuk ikut karena keterbatasan waktu. “Iya, Nadya bahkan sudah mengembalikan uang yang kami berikan untuk registrasi lomba. Namun, pihak COMMINFEST 2021 memutuskan untuk memperpanjang waktu tutup pendaftaran (close registration) dan waktu tutup pengumpulan (close submission). Akhirnya, kami juga memutuskan untuk tetap ikut lomba,” ujar Clai.

            Lomba RAC berlangsung selama 53 hari dari 8 Maret sampai 30 April 2021. Dalam lomba RAC ini, peserta diminta untuk membuat iklan layanan masyarakat tentang ketidaksetaraan gender dalam kekerasan seksual (gender inequality in sexual harassment). Nadya, Flo, dan Clai awalnya ingin membuat sesuai dengan yang diminta oleh pihak COMMINFEST 2021, namun mereka merasa bahwa iklan layanan masyarakat saja tentu akan sangat membosankan. “Kita putar otak sampai menemukan ide yang bisa membuat iklan layanan masyarakat ini jadi lebih menarik, yaitu dengan parodi bertema fairytale,” ungkap Nadya. Proses rekaman untuk iklan layanan masyarakat ini pun tidak mudah. Tiga mahasiswi ini melakukan proses rekaman di sebuah kafe dan walaupun sepi, masih ada beberapa orang di kafe tersebut. “Sudah mutusin urat malu banget! Beruntungnya, pekerja dan orang-orang di kafe cukup suportif. Mereka bahkan sampai mematikan musik terlebih dahulu agar kami bisa melakukan proses rekaman,” ujar Flo.

            Usaha mereka ternyata tidak sia-sia karena pada Minggu, 24 April 2021, COMMINFEST 2021 mengumumkan bahwa “Pixie Hollow”―nama tim dari ketiga mahasiswi ini―merupakan satu dari delapan finalis lomba RAC. Untuk menentukan Juara I, II, dan III dari setiap kategori lomba, para finalis diberi waktu satu hari untuk mempersiapkan iklan layanan masyarakat yang sudah mereka buat dan menyiarkannya secara langsung selama 10 menit. Nadya, Flo, dan Clai awalnya cukup kelabakan, namun mereka berhasil bekerjasama dengan baik selama melakukan siaran on-the-spot. Kerjasama mereka bahkan memperoleh pujian dari para juri. Walau begitu, mereka sempat merasa gagal setelah melihat lawan mereka yang lebih kompeten dan berpengalaman dalam bidang radio broadcasting. “Salah satu lawan kami merupakan penyiar muda yang sudah berpengalaman, sehingga tentu saja kami merasa sangat insecure. Sudah benar-benar pesimis walaupun ada harapan untuk bisa menang” ujar Clai. Mereka juga mengungkapkan bahwa ada momen dimana ada jeda yang canggung (awkward silence) saat melakukan siaran, dan hal ini membuat mereka semakin pesimis.

            Pada Minggu, 1 Mei 2021, COMMINFEST 2021 mengumumkan pemenang lomba kategori RAC dan ternyata, “Pixie Hollow” berhasil menyabet Juara II. Mereka mengungkapkan bahwa mereka tidak menyangka akan menang karena selain pertama kali mengikuti lomba, mereka sudah pesimis saat mendengar Juara III bukanlah mereka. Tim ini memperoleh pujian dari para juri atas kelengkapan dan akurasi data yang mereka berikan, serta kerjasama antar anggota yang baik. Nadya, Flo, dan Clai kemudian ingin memberikan pesan kepada seluruh mahasiswa Fikom untuk mencoba mengikuti lomba pula dan untuk tidak takut dengan kegagalan. Selamat kepada Nadya, Flo, dan Clai. Semoga pencapaian ini dapat menjadi inspirasi bagi Fikomers untuk bekerja keras meraih prestasi. Soli Deo Gloria!

Baca lebih lanjut>
Strategi Pengelolaan Isu dan Krisis Industri Makanan
08 Jan 2021

Selain rasa, kebersihan dan kesegaran bahan harus menjadi perhatian utama bagi industri makanan. Namun bagaimana jika suatu saat restoran mengalami krisis karena masalah bahan kadaluarsa? Isu ini diulas Joanna Belinda, Bernadheta Yoshy, dan Aurellia Nathania dalam Jambore Nasional Komunikasi 2020 yang digelar ASPIKOM Jabodetabek.

Berbekal materi yang didapat dari kuliah dan bimbingan Ibu Astri Yogatama, tiga serangkai ini menggagas strategi pengelolaan krisis bagi restoran yang mengalami masalah tersebut. Puji Tuhan, kelompok ini menjadi Juara 2 kategori Lomba Manajemen Isu dan Krisis.

Baca lebih lanjut>
Kejelian Berbuah Prestasi
04 Jan 2021

New normal telah mengubah gaya hidup dan meningkatkan kewaspadaan kita. Salah satunya ketika akan bersentuhan dengan benda atau alat yang juga diakses banyak orang. Muncullah inovasi corona finger yang kini sering dipakai untuk menekan tombol maupun membuka pintu.

Kepekaan dan kecepatan seorang Nicholas Abdiel mengabadikan momen tersebut membawanya menjadi Juara 2 Lomba Fotografi yang diselenggarakan Universitas Trilogi, Jakarta.

Baca lebih lanjut>
Jangan Berhenti Mencintai dan Lestarikan Budaya
06 Jan 2021

Melestarikan tradisi di era modern membutuhkan cinta dan ketekunan. Di tengah tumbuhnya berbagai genre musik kontemporer, Tania Devina malah memilih mempelajari musik tradisional Tiongkok. Sejak kelas 10 ia setia belajar memainkan guzheng. Kepiawaiannya membawanya menjadi Juara 3 Lomba Bakat dalam Mandarin Festival V dan Peringatan Hari Confucius Global Tingkat Mahasiswa Seluruh Indonesia.

Baca lebih lanjut>
Sumbang Ide untuk Komunikasi di Masa Pandemi
11 Jan 2021

Penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia menjadi sorotan media massa selama tahun 2020. Isu itulah yang diangkat Oey Sherina, Felicia Clairine, dan Auryn Nathania ketika mengikuti Jambore Nasional Komunikasi 2020 yang diselenggarakan ASPIKOM Jabodetabek.

Kelompok ini membuat strategi dan taktik untuk meyakinkan masyarakat supaya tetap mempercayai Menteri Kesehatan dan seluruh jajaran pemerintah.
Ide tiga mahasiswi angkatan 2018 Program Strategic Communication ini berhasil menyabet gelar Juara 3 kategori Lomba Manajemen Isu dan Krisis.

Baca lebih lanjut>
Edukasi Masyarakat Lewat Game
22 Sep 2020

"The New Normal Needs A New Mindset" itulah tema lomba yang diselenggarakan oleh PR Indonesia sebagai rangkaian acara Jambore PR Indonesia (JAMPIRO) #6. Magdeline dan Ricky tetap produktif dengan mengikuti lomba tersebut walau hanya di rumah saja.

 Manajemen waktu, kreatif, dan diskusi. Itu yang berhasil membuat Magdeline dan Ricky mendapat ide campaign #BERAKSI yang berkaitan dengan mobile game. Nama campaign #BERAKSI terinspirasi dari lagu yang dipopulerkan oleh grup band Kotak dengan judul yang sama. Mobile game sangat digemari oleh masyarakat Indonesia, sehingga mereka memilih media tersebut untuk mengedukasi masyarakat dengan cara yang asyik.

 Selamat @mgdlnprscl dan @ricipicir ! Semoga kreativitasnya menginspirasi Fikomers lainnya ya..

 #IkomUKP #PrestasiMahasiswa

Baca lebih lanjut>
Kerja Keras, Sabet Dua Gelar
10 Sep 2020

Pandemi tidak menjadi tembok penghalang bagi Jeffrey Hendrawan untuk tetap berkarya. Ia berhasil menyabet dua gelar sekaligus, yaitu Juara 1 Lomba Master of Ceremony dan Juara 2 Lomba News Anchor di National Competition of Public Speaking. Lomba ini diselenggarakan Unit Kegiatan Mahasiswa Protokol Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember.

Talenta, hobi, dan kerja keras. Itulah kata-kata kunci keberhasilan Jeffrey.  Mulai dari menyiapkan naskah MC serta News Anchor, wawasan serta pengalaman belajar dan bertugas di kampus menjadi bekal Jeffrey dalam meraih gelar juara. Selain itu, kunci lainnya ialah menyesuaikan dengan kondisi dan sistem lomba yang diselenggarakan. Perlombaan ini menurut dia bisa menjadi sebuah pengalaman dan saluran aktivitas agar tetap produktif di masa pandemik.

Syukur kepada Tuhan! Selamat untuk @jeffhendrawan

#IkomUKP #PrestasiMahasiswa

 

Baca lebih lanjut>
"Terlalu Santai" Hasilkan Juara
16 Sep 2020

Bakat yang terus ditempa dan diasah pasti akan membuahkan hasil yang baik. Berbekal basic announcing di Petra Campus Radio yang kemudian dikembangkaan terus menerus membuat Jeffrey Hendrawan, Velly Christine Ratu Edo, dan Inge Averina berhasil meraih juara 2 dalam lomba Radio Announcing Competition yang diselenggarakan oleh Communication Avenue 2020, Universitas Pelita Harapan, Karawaci, Tangerang

Dari 10 Top Indonesian Issue yang disediakan oleh lomba radio announcing ini, Jeffrey dkk mendapatkan topik mengenai “Terlalu Santai”. Isu tersebut kemudian dirundingkan, disiapkan, dan dibahas secara matang. Mereka mengembangkan dan mengaitkannya dengan kehidupan masyarakat Indonesia yang menghadapi segala macam situasi dan kondisi dengan santai.

Perlombaan ini juga mengingatkan kita untuk tidak lupa bersyukur kepada Tuhan yang sudah menuntun dan memberkati sehingga Jeffrey dkk bisa meraih juara. Selain itu dalam proses persiapan lomba, mereka dibantu Ibu Astri Yogatama selaku Kepala Lab Radio.

Syukur kepada Tuhan! Selamat untuk

@jeffhendrawan @vellych, dan @ingeaverina

#IkomUKP #PrestasiMahasiswa #RadioAnnouncing

Baca lebih lanjut>
Makin Pengalaman Makin Berkembang
07 Okt 2020

Belajar dari pengalaman mengikuti lomba atau sering berlatih bersama teman merupakan salah satu kunci untuk mengembangkan bakat. Hal itulah yang dilakukan Velly Christine yang berhasil meraih Juara 2 Radio Announcer dalam Lomba BICOMMA 2020. Lomba ini diselenggarakan oleh Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Bina Nusantara, Malang.

Semakin banyak pengalaman, semakin terasah pula bakat yang dimiliki. Juga jangan pantang menyerah dan jangan takut kalah sebelum mencoba.

Selamat @vellych! Semoga semangat terus mencoba dan berlatih bisa menginspirasi Fikomers lainnya ya.

#IkomUKP #PrestasiMahasiswa

Baca lebih lanjut>
Pertama Lomba, Pertama Juara
16 Sep 2020

Berani mencoba dan berproses bersama tentu tidak akan mengkhianati hasil nanti yang akan didapatkan. Hal ini diterapkan oleh Putu Dinda Ayudia, Putri Kurnia Utami Kamlasi, dan Angela Audrey Sutanto yang berhasil meraih juara III dalam lomba Radio Announcing Competition yang diselenggarakan oleh Communication Avenue 2020, Universitas Pelita Harapan, Karawaci, Tangerang. Ketiganya adalah mahasiswa #IkomUKP angkatan 2019 yang baru pertama kali mencoba mengikuti lomba. 

Selain berusaha menguasai topik yang diberikan, yaitu mengenai “Natuna”, mereka tentu melakukan persiapan teknis yang sangat matang. Skill penyiaran radio, manajemen suara, bahasa tubuh, dan penyelarasan 'vibes' merupakan cara Putu dkk bisa menjuarai perlombaan ini. Tidak lupa Putu dkk melakukan bimbingan, arahan, dan brainstorming ide bersama Ibu Astri Yogatama selaku Kepala Lab Radio untuk mengembangkan topik yang didapatkan.

Syukur kepada Tuhan! Selamat untuk

@pkurnia_ @angelaaudrey07 @dindanayuu

#IkomUKP #PrestasiMahasiswa #RadioAnnouncing

Baca lebih lanjut>
Abadikan "New Normal" Lewat Lensa
22 Okt 2020

Peka terhadap lingkungan sekitar yang sekarang harus beraktivitas dengan cara new normal, menjadi kesempatan yang tidak disia-siakan Michael Pangaribowo untuk menghasilkan karya yang berbuah prestasi. Pada 26 September kemarin ia berhasil meraih Juara 3 dalam Lomba Foto yang diselenggarakan Maranatha Photography Club, Unversitas Kristen Maranatha, Bandung.

Fikomers angkatan 2019 yang sering disapa Michi ini mengabadikan momen ketika ia menjadi fotografer di suatu acara yang menerapkan protokol kesehatan. Hasil jepretannya ia ikutkan dalam lomba yang bertema “Catch The New Normal Through Your Lens & Let’s Help Each Out”

Selamat @michaelpangaribowo_ . Semoga kepekaan terhadap lingkungan sekitar juga mendorong #Fikomers lain berkarya dan berdampak.

#IkomUKP #PrestasiMahasiswa

Baca lebih lanjut>
Because "Small Things Matter"
17 Jul 2020

Kabar baik datang dari Griselda Sampurno mahasiswa angkatan 2018 dimana meraih juara 1 dalam kategori lomba poster yang diselenggarakan oleh kelompok 17 Social Project Sahabat Percepatan Peningkatan Kepemimpinan Mahasiswa (SP2KM) 2020, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Ide yang dituangkan pada posternya berjudul ‘Small Things Matter’ adalah mengenai aksi yang dapat dilakukan untuk membantu Indonesia ‘Pulih’ setelah Pandemi Covid - 19 dan menuju era New Normal.

#IkomUKP #PrestasiMahasiswa

Baca lebih lanjut>
Menampilkan 1-20 dari 59 item.